PGRI dan Lemahnya Komunikasi di Kelas
1. Budaya “Penyampaian” Bukan “Percakapan”
-
Komunikasi Top-Down: Di dalam organisasi, instruksi mengalir dari pengurus pusat ke bawah. Tanpa sadar, guru mereplikasi pola ini di kelas: guru berbicara, siswa mencatat.
2. Formalisme yang Mematikan Spontanitas
Organisasi yang sangat formal seperti PGRI cenderung menghargai prosedur di atas substansi. Di ruang kelas, hal ini bermanifestasi menjadi:
-
Ketakutan akan Diskusi Terbuka: Guru khawatir jika kelas terlalu “berisik” dengan diskusi, mereka akan dianggap tidak bisa mengontrol kelas oleh sejawat atau pengurus organisasi di sekolah.
3. Absensi Pelatihan Soft-Skills Komunikasi
Jika kita melihat program pengembangan profesi yang didorong oleh PGRI, mayoritas masih berkutat pada:
-
Sertifikasi dan kenaikan pangkat.
-
Penguasaan konten materi ajar.
-
Administrasi pembelajaran (RPP, silabus).
-
Yang Terlupakan: Pelatihan mengenai teknik bertanya ($questioning$ $skills$), mendengarkan aktif ($active$ $listening$), dan resolusi konflik di kelas melalui komunikasi persuasif.
Strategi Transformasi: Membangun Kelas yang “Bicara”
Agar komunikasi di kelas tidak lagi lemah, PGRI harus memimpin gerakan “Literasi Komunikasi Pendidik”:
-
Pelatihan Komunikasi Non-Instruksional: PGRI perlu bekerja sama dengan pakar komunikasi untuk melatih guru cara membangun narasi yang menarik (storytelling) dan cara memicu debat sehat di kelas.
-
Redefinisi “Kelas yang Baik”: Organisasi harus mengampanyekan bahwa kelas yang baik bukan kelas yang senyap dan patuh, melainkan kelas yang dinamis dengan suara siswa yang berani berargumen.
-
Ruang Curhat Profesional: PGRI di tingkat ranting harus menjadi tempat di mana guru bisa belajar cara berkomunikasi dengan generasi Z dan Alpha yang memiliki karakteristik sangat berbeda dengan generasi pendidik mereka.
Intisari: Komunikasi yang buruk di kelas adalah tanda bahwa guru belum merdeka dari belenggu instruksi birokrasi. Jika PGRI ingin memajukan pendidikan, ia harus memastikan bahwa guru adalah komunikator yang hebat, bukan sekadar pembaca buku teks di depan kelas.
No Responses