Regenerasi Pengurus: Mengapa Jabatan Strategis Masih Didominasi Wajah Lama?
Dominasi senioritas yang terlalu kaku berisiko menciptakan jarak antara kebijakan organisasi dengan realitas kebutuhan guru generasi Milenial dan Gen Z yang kini mulai mendominasi populasi pendidik di Indonesia.
Akar Penyebab Lambatnya Regenerasi
1. Budaya Senioritas yang Mengakar
Dalam budaya organisasi tradisional, pengalaman sering kali dianggap sebagai satu-satunya tolok ukur kompetensi. Hal ini menciptakan sekat di mana kader muda yang progresif dianggap “belum cukup umur” atau “kurang makan garam,” meskipun mereka memiliki kecakapan digital dan inovasi yang lebih unggul dibandingkan para senior.
2. Struktur AD/ART yang “Mengunci”
3. Keengganan untuk Melepas Kekuasaan
Jabatan strategis di organisasi sebesar PGRI memberikan akses luar biasa terhadap jaringan politik dan birokrasi. Hal ini terkadang membuat “zona nyaman” yang sulit dilepaskan oleh para petahana, sehingga proses kaderisasi hanya berjalan secara formalitas tanpa adanya pelimpahan wewenang yang nyata.
Dampak Dominasi Wajah Lama bagi Organisasi
Jika regenerasi terus terhambat, PGRI akan menghadapi risiko yang serius:
-
Gagasan yang Usang: Tanpa darah segar, organisasi cenderung menggunakan cara-cara lama untuk menyelesaikan masalah baru (seperti tantangan AI atau beban administrasi digital).
-
Kelambanan Adaptasi: Kepemimpinan yang didominasi wajah lama cenderung lebih lambat dalam merespons perubahan kebijakan pemerintah yang bersifat instan dan digital.
Langkah Nyata Menuju Estafet Kepemimpinan
Regenerasi bukan berarti membuang peran senior, melainkan melakukan kolaborasi lintas generasi. PGRI perlu melakukan:
-
Penerapan Batas Periode yang Tegas: Memastikan tidak ada dominasi jabatan yang berlarut-larut untuk memberikan ruang bagi kader baru.
-
Program Mentorship Strategis: Para pengurus senior berperan sebagai pembimbing (mentor) bagi tokoh muda potensial, bukan sebagai penghalang jalur karir organisasi.
-
Quota Kepengurusan Muda: Menetapkan persentase minimal bagi pengurus di bawah usia tertentu dalam struktur jabatan strategis untuk memastikan perspektif generasi terbaru selalu terdengar.
Kesimpulan: Estafet demi Eksistensi
Regenerasi adalah keniscayaan. Organisasi yang menolak untuk beregenerasi adalah organisasi yang sedang merencanakan kepunahannya sendiri. PGRI harus berani memberikan panggung kepada wajah-wajah baru yang visioner dan melek teknologi. Hanya dengan estafet kepemimpinan yang sehat, PGRI akan tetap tegak sebagai organisasi profesi yang disegani—bukan karena sejarahnya saja, tetapi karena kemampuannya menjawab tantangan masa depan.
No Responses