Kurikulum Sering Berganti: Bukti Ketidaksiapan Pemerintah?
Siklus Tanpa Akhir: Guru sebagai Objek Eksperimen?
Beberapa kendala utama yang muncul akibat kurikulum yang sering berganti antara lain:
-
Kebingungan Metodologi: Belum selesai guru menguasai Kurikulum A, mereka sudah dituntut menerapkan Kurikulum B. Hal ini mengakibatkan pengajaran di kelas menjadi tidak maksimal karena guru masih dalam tahap meraba-raba.
-
Beban Administrasi: Setiap kurikulum baru membawa sistem pelaporan, perangkat ajar, dan aplikasi baru yang menyita waktu mengajar guru hanya untuk urusan administratif.
Adaptasi atau Ambis Politis?
Pemerintah selalu berargumen bahwa perubahan kurikulum adalah keharusan agar pendidikan kita tetap relevan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan industri. Namun, kritikus melihat adanya ambisi politis untuk meninggalkan “warisan” (legacy) yang berbeda dari pendahulunya.
Posisi PGRI: Mengawal Stabilitas Pendidikan
Dalam kegaduhan perubahan ini, PGRI berperan sebagai penyeimbang agar kepentingan guru dan siswa tidak dikorbankan. PGRI terus menyuarakan bahwa perubahan kurikulum haruslah memiliki landasan yang kuat, bukan sekadar gaya-gayaan kebijakan.
Poin-poin perjuangan yang terus ditekan oleh PGRI meliputi:
-
Uji Coba Terbatas: Mendesak agar kurikulum baru tidak langsung diterapkan secara nasional, melainkan melalui riset dan uji coba yang mendalam di berbagai tipologi daerah.
-
Pelatihan yang Berkualitas: Guru bukan hanya butuh sosialisasi satu hari, tapi pendampingan berkelanjutan hingga benar-benar menguasai materi.
-
Penyelarasan Fasilitas: Pemerintah tidak boleh memaksakan kurikulum tinggi jika fasilitas di sekolah-sekolah daerah belum diperbaiki.
Kesimpulan: Butuh Peta Jalan, Bukan Sekadar Nama Baru
Pendidikan bukanlah laboratorium percobaan yang bisa diubah-ubah setiap lima tahun sekali. Yang dibutuhkan Indonesia bukanlah sekadar pergantian nama kurikulum, melainkan sebuah Grand Design Pendidikan yang berlaku jangka panjang, melampaui masa jabatan politik.
Kesejahteraan guru dan kenyamanan siswa belajar harus menjadi indikator utama. Jika kurikulum berganti namun nasib pengajar tetap terabaikan dan fasilitas sekolah tetap rapuh, maka perubahan tersebut hanyalah kosmetik birokrasi yang tidak menyentuh esensi mencerdaskan kehidupan bangsa.
No Responses