PMM Membunuh Kreativitas: Apakah Platform Merdeka Mengajar Hanya Menambah Beban Administrasi Guru?

Kritik bahwa Platform Merdeka Mengajar (PMM) justru “membunuh” kreativitas guru dan menambah beban administrasi merupakan kegelisahan nyata yang dirasakan oleh banyak pendidik di lapangan. Meskipun dirancang untuk mempermudah akses referensi mengajar, dalam praktiknya terdapat jurang pemisah antara visi digitalisasi dan realitas beban kerja guru.

Berikut adalah analisis kritis mengenai apakah PMM benar-benar menjadi beban administrasi baru atau justru alat bantu yang disalahpahami:


1. Paradox PMM: Antara Referensi dan Beban “Aksi Nyata”

Visi Kurikulum Merdeka adalah fleksibilitas, namun PMM sering kali memaksa guru masuk ke dalam standar administratif yang kaku melalui fitur “Aksi Nyata”.

2. PMM sebagai “Tugas Tambahan” yang Menyita Fokus

Bagi banyak guru, PMM tidak menggantikan beban administrasi lama, melainkan menjadi lapisan baru di atas tugas-tugas yang sudah ada.

3. Sisi Lain: Potensi Demokratisasi Sumber Belajar

Secara objektif, PMM memiliki sisi positif yang bisa mendukung kreativitas jika digunakan dengan tepat tanpa tekanan administratif.


4. Kapan PMM Menjadi “Pembunuh” Kreativitas?

Kreativitas mati ketika platform menjadi tujuan, bukan alat.

Kondisi Kreativitas Hidup Kondisi Kreativitas Mati
PMM digunakan sebagai referensi saat guru butuh ide. PMM digunakan karena tuntutan target sertifikat harian.
Aksi Nyata adalah dokumentasi dari kegiatan kelas yang sudah berjalan. Kegiatan kelas direkayasa hanya agar bisa difoto untuk Aksi Nyata.
Fokus pada dampak pembelajaran siswa. Fokus pada “Rapor Pendidikan” hijau di dashboard.

Solusi agar PMM Tidak Sekadar Menjadi Beban Administrasi

Agar PMM kembali ke khitahnya sebagai alat bantu, diperlukan langkah strategis dari pemerintah dan satuan pendidikan:

  1. Penyederhanaan Validasi: Proses kurasi Aksi Nyata tidak boleh terlalu kaku. Kreativitas tidak bisa dinilai hanya dari format PDF atau durasi video tertentu.

  2. Integrasi Satu Pintu: Menyatukan PMM dengan e-Kinerja secara total sehingga guru tidak perlu melakukan input data yang sama berkali-kali.

  3. Hapus Budaya “Perlombaan Sertifikat”: Dinas pendidikan dan kepala sekolah harus berhenti menjadikan jumlah sertifikat PMM sebagai satu-satunya indikator kesuksesan guru. Penilaian terbaik harus tetap pada perubahan perilaku dan minat belajar siswa di kelas.

Kesimpulan PMM memiliki potensi untuk memperkaya cara mengajar, namun saat ini ia berisiko tinggi menjadi “penjara digital” bagi guru. Jika tekanan administratif dan validasi formal lebih diutamakan daripada esensi belajar itu sendiri, maka kekhawatiran bahwa PMM membunuh kreativitas guru akan menjadi kenyataan yang pahit bagi dunia pendidikan kita.

slot gacor

situs togel

bento4d

bento4d

bento4d

jacktoto

jacktoto

TAGS

CATEGORIES

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *