Boikot Pelatihan Mandiri PMM: Mengapa tontonan video tutorial berdurasi jam-jaman justru menurunkan fokus kreativitas guru dalam menyiapkan materi kelas?

Boikot Pelatihan Mandiri PMM: Mengapa Tontonan Video Tutorial Berdurasi Jam-jaman Justru Menurunkan Fokus Kreativitas Guru dalam Menyiapkan Materi Kelas?

Dalam beberapa tahun terakhir, layar gawai dan laptop para pendidik di seluruh Indonesia tidak pernah sepi dari kepungan video tutorial. Di bawah panji transformasi digital, Kementerian Pendidikan meluncurkan Pelatihan Mandiri melalui Platform Merdeka Mengajar (PMM) sebagai menu wajib bagi jutaan guru. Platform ini digadang-gadang sebagai demokratisasi ilmu pengetahuan, tempat di mana guru bisa belajar secara fleksibel kapan saja dan di mana saja untuk meningkatkan kompetensi mereka.

Namun, di tingkat tapak, optimisme digital tersebut justru berbenturan keras dengan realitas psikologis dan teknis para pengajar. Alih-alih melahirkan guru-guru yang inovatif dan adaptif, kewajiban menyelesaikan modul pelatihan yang disarati tontonan video tutorial berdurasi jam-jaman ini mulai memicu riak perlawanan terselubung—sebuah desakan bosan yang mengarah pada gerakan “Boikot Pelatihan Mandiri PMM.” Banyak praktisi pendidikan mulai menyadari sebuah paradoks yang merusak: waktu dan energi mental guru habis tersedot demi mengejar durasi tontonan video aplikasi, yang pada akhirnya justru melumpuhkan fokus dan mematikan kreativitas asli mereka dalam menyiapkan materi pembelajaran yang segar di dalam ruang kelas.

1. Kelelahan Kognitif (Cognitive Overload): Ketika Otak Guru Kehabisan Baterai Mental

Akar masalah dari kejenuhan massal ini dapat dijelaskan melalui teori psikologi kognitif mengenai keterbatasan kapasitas memori kerja manusia. Menonton video tutorial yang padat akan istilah-istilah teoretis-birokratis baru membutuhkan konsentrasi mental yang tinggi.

2. Standardisasi yang Membunuh Otentisitas dan Karakter Lokal Kelas

Kreativitas mengajar sejati lahir dari kebebasan guru untuk membaca kebutuhan unik murid-murid di hadapannya secara kontekstual. Namun, Pelatihan Mandiri PMM cenderung menawarkan solusi seragam (one-size-fits-all) yang dikemas dalam bentuk video tutorial instruksional yang kaku.

  • Sindrom Peniru Pasif: Melalui video-video tersebut, guru secara tidak langsung didoktrin untuk meniru langkah-demi-langkah (template) mengajar yang dianggap ideal oleh pembuat konten di pusat. Ruang bagi guru untuk bereksperimen, membuat kesalahan, dan menemukan gaya pedagogi yang sesuai dengan kearifan lokal daerahnya menjadi sempit.

  • Matinya Desain Materi Mandiri: Sebelum era PMM mendominasi, guru memanfaatkan waktu luang mereka untuk mencari referensi buku, membuat alat peraga fisik yang menarik dari barang bekas, atau menyusun modul projek yang membumi. Kini, waktu-waktu berharga tersebut terampas. Guru lebih memilih mengunduh template Aksi Nyata yang bertebaran di internet dan memodifikasinya sedikit agar cepat diverifikasi oleh sistem, ketimbang memikirkan keunikan materi untuk murid mereka sendiri.

Dampak Fatal: Lahirnya Generasi Guru “Aktor Aplikasi” dan Kelas yang Dingin

Membiarkan jam kerja guru habis untuk berinteraksi dengan algoritma video ketimbang dengan manusia (murid) mendatangkan dampak domino yang mengerikan bagi mutu pendidikan:

  1. Prioritas yang Terbalik (Mengejar Centang Hijau): Fokus guru bergeser dari bagaimana membuat murid paham, menjadi bagaimana agar semua modul di aplikasi segera berubah warna menjadi centang hijau. Keberhasilan seorang pendidik kini diukur secara dangkal oleh statistik keaktifan login dan jumlah sertifikat yang diunduh di dasbor PMM.

  2. Hilangnya Kedekatan Emosional di Kelas: Proses mengajar bukan sekadar transfer teori yang ada di dalam video tutorial, melainkan sebuah seni interaksi kemanusiaan. Guru yang didera stres dan kelelahan administrasi digital akibat beban PMM akan masuk ke dalam ruang kelas dengan wajah lelah, mudah jengkel, dan kurang sabar dalam membimbing siswa yang lambat belajar.

  3. Formalitas Aksi Nyata Fiktif: Untuk meloloskan syarat sertifikasi di PMM, guru diwajibkan mengunggah dokumen “Aksi Nyata”. Di lapangan, hal ini memicu produksi dokumen kosmetik massal. Guru saling meminta tolong sejawat untuk mengisi lembar umpan balik formalitas, sekadar agar dokumen tersebut tampak valid saat diperiksa oleh tim kurator aplikasi di pusat.

Kesimpulan: Kembalikan Kemerdekaan Belajar Guru yang Sejati

Digitalisasi pendidikan seharusnya memerdekakan dan mempermudah tugas guru, bukan berbalik menjadi mandor digital baru yang mengintimidasi kedamaian kerja para pendidik. Mengukur kualitas mengajar lewat durasi tontonan video adalah kekeliruan fatal dalam memandang esensi profesi keguruan.

Kementerian Pendidikan harus mendengarkan jeritan sunyi di ruang-ruang guru dan segera melakukan evaluasi radikal terhadap sistem Pelatihan Mandiri PMM:

  • Hapus Sifat Wajib dan Pemeringkatan Berbasis Aplikasi: Jadikan Pelatihan Mandiri di PMM sebagai fasilitas opsional-suplementer yang diakses guru secara sukarela saat mereka benar-benar membutuhkan referensi khusus, bukan sebagai instrumen wajib penentu rapor kinerja atau tunjangan profesi.

  • Kembalikan Pelatihan Berbasis Komunitas yang Hidup: Ganti kewajiban menonton video individu yang soliter dengan penguatan komunitas belajar (Kombel) lokal atau MGMP yang bersifat tatap muka dan egaliter. Biarkan guru belajar dari diskusi nyata antarsejawat mengenai problem konkret kelas mereka, bukan dari instruksi searah seorang mentor di dalam layar gawai.

Berikan kembali waktu para guru untuk membaca buku, merenung, dan menyiapkan media pembelajaran yang interaktif bagi anak didiknya. Karena dari pikiran guru yang tenang, merdeka, dan tidak kelelahan, akan lahir pembelajaran yang hidup, kreatif, dan penuh inspirasi di dalam ruang-ruang kelas Indonesia.

link gacor

TAGS

CATEGORIES

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *