PGRI: Lebih Sibuk Organisasi daripada Pendidikan?
1. Jebakan Formalisme dan Kegiatan Seremonial
-
Seremoni yang Megah: Peringatan HUT PGRI, gerak jalan, lomba menyanyi antar-guru, hingga rapat koordinasi berjenjang sering kali menyedot anggaran dan waktu yang sangat besar.
2. Fokus Berlebihan pada Administrasi dan Iuran
Salah satu keluhan laten dari para anggota di tingkat akar rumput adalah kuatnya tarikan organisasi dalam urusan administratif.
-
Pemberkasan Sertifikasi: PGRI memang membantu guru dalam urusan sertifikasi, namun sering kali bantuan ini berhenti pada teknis pemberkasan (administrasi) tanpa dibarengi dengan bimbingan substansi mengenai peningkatan kompetensi yang seharusnya menjadi syarat tunjangan tersebut.
3. Politik Kursi dan Kedekatan Struktural
PGRI memiliki kedekatan historis dan struktural dengan birokrasi pemerintahan. Hal ini menciptakan dilema:
-
Jabatan Rangkap: Banyak pengurus PGRI daerah yang juga menjabat posisi strategis di Dinas Pendidikan. Kondisi ini membuat organisasi lebih sibuk menyelaraskan diri dengan kebijakan penguasa daerah daripada menjadi mitra kritis yang menawarkan solusi pendidikan alternatif.
-
Mobilisasi Massa: Kekuatan massa PGRI yang besar sering kali lebih sering terlihat dalam aksi-aksi lobi politik (untuk pengangkatan ASN/PPPK) daripada dalam gerakan literasi atau sains nasional.
Redefinisi Prioritas: Mengembalikan Roh “Pendidikan”
Agar PGRI tidak dianggap sebagai beban organisasi bagi para guru, diperlukan pergeseran paradigma yang radikal:
-
Transformasi Rapat Menjadi Kolaborasi: Mengganti 50% agenda rapat rutin organisasi yang bersifat administratif dengan sesi peer-review atau bedah kasus kesulitan belajar siswa di sekolah masing-masing.
-
Audit Kemanfaatan Kegiatan: Organisasi harus berani memangkas kegiatan seremonial yang tidak berdampak langsung pada kualitas guru dan mengalihkan anggotanya untuk mendanai riset atau pembuatan media ajar digital.
-
Kaderisasi Intelektual: Rekrutmen pengurus tidak boleh hanya berdasarkan senioritas atau kedekatan birokrasi, tetapi harus menyertakan syarat portofolio inovasi pendidikan yang nyata.
Intisari: Organisasi hanyalah wadah, sementara pendidikan adalah isinya. Jika PGRI terus-menerus mempercantik wadah namun membiarkan isinya kosong atau basi, maka lambat laun guru-guru progresif akan mencari wadah lain yang lebih peduli pada apa yang terjadi di papan tulis daripada apa yang terjadi di meja rapat.
No Responses