Sekolah Full Day: Bentuk Penindasan terhadap Siswa?
Kehilangan Waktu Bermain: Harga yang Harus Dibayar
Salah satu argumen terkuat penolak Full Day School adalah hilangnya keseimbangan hidup pada anak. Anak-anak menghabiskan lebih dari 8 jam di lingkungan yang penuh dengan aturan dan tekanan akademik.
-
Kelelahan Kognitif: Otak manusia, terutama anak-anak, memiliki batas fokus. Memaksa mereka tetap dalam mode belajar hingga sore hari sering kali justru kontraproduktif dan memicu stres.
Alibi Keamanan: Apakah Sekolah Selalu Lebih Aman?
Pemerintah dan pendukung FDS sering berargumen bahwa dengan berada di sekolah lebih lama, anak-anak berada dalam pengawasan yang lebih baik. Namun, klaim ini memiliki celah. Tanpa fasilitas pendukung yang memadai—seperti ruang istirahat yang layak, sanitasi yang baik, dan asupan gizi yang terjamin—berada di sekolah terlalu lama justru bisa mengganggu kesehatan fisik dan mental siswa.
Sekolah tidak boleh berubah menjadi “penjara halus” yang hanya bertujuan untuk memarkir anak sementara orang tuanya bekerja.
Peran PGRI: Mengawal Kesejahteraan Siswa dan Guru
Langkah-langkah yang diadvokasi PGRI meliputi:
-
Fasilitas yang Manusiawi: Mendesak agar sekolah yang menerapkan FDS wajib memiliki infrastruktur yang memadai (kantin sehat, tempat ibadah, dan area relaksasi), bukan sekadar menambah jam pelajaran di dalam kelas yang pengap.
-
Beban Kerja Guru: PGRI mengingatkan bahwa FDS juga berdampak pada beban kerja guru yang berlipat ganda. Kesejahteraan dan waktu istirahat guru harus tetap dijamin agar kualitas pengajaran tidak merosot.
-
Kurikulum yang Menyenangkan: Mendorong agar jam tambahan di FDS tidak diisi dengan materi akademik berat, melainkan dengan kegiatan pengembangan bakat, seni, dan karakter yang menyenangkan.
Kesimpulan: Bukan Berapa Lama, Tapi Bagaimana
Menyebut Full Day School sebagai penindasan mungkin terasa ekstrem, namun mengabaikan rasa jenuh dan hak bermain anak adalah sebuah kesalahan fatal dalam pendidikan. Sekolah seharusnya menjadi tempat yang dirindukan, bukan tempat yang membuat siswa merasa “terperangkap”.
Efektivitas pendidikan tidak diukur dari berapa jam anak duduk di bangku sekolah, melainkan dari seberapa bermakna pengalaman yang mereka dapatkan. Jika sekolah tidak mampu menciptakan suasana yang mendukung pertumbuhan karakter secara bahagia, maka menambah jam sekolah hanyalah beban yang tidak berujung.
No Responses