Efek Samping Guru Penggerak: Apakah menciptakan “elit baru” di ruang guru justru merusak soliditas antar sejawat?

Fenomena “Guru Penggerak” sebagai motor transformasi pendidikan sering kali menjadi pedang bermata dua di lapangan. Program ini dirancang untuk melahirkan pemimpin instruksional, namun dalam implementasinya, ia berisiko menciptakan segregasi sosial yang merusak keharmonisan di ruang guru. Label “Penggerak” di satu sisi memberikan akses pada kekuasaan, namun di sisi lain berisiko menciptakan kasta baru yang memicu resistensi.

Berikut adalah bedah masalah mengenai fenomena “elit baru” dan dampaknya terhadap soliditas sejawat:


1. Lahirnya Kasta Administratif di Sekolah

Kritik utama terhadap program ini adalah terciptanya privilese yang sangat kontras antara mereka yang berlabel Guru Penggerak (GP) dan yang tidak.

2. Ketimpangan Beban Kerja vs. Pengakuan

Program ini menuntut dedikasi waktu yang luar biasa, yang sering kali berdampak langsung pada rekan sejawat lainnya di sekolah.


Perbandingan: Dinamika Ruang Guru Pasca-Program Guru Penggerak

Dimensi Soliditas Tradisional (Kolektif) Dinamika “Elit Baru” (Segregasi)
Hierarki Berdasarkan senioritas dan pengalaman lapangan. Berdasarkan kepemilikan sertifikat “Penggerak”.
Kolaborasi Berbasis gotong royong alami dan organik. Berbasis penugasan formal sebagai penggerak.
Iklim Kerja Lebih cair, setara, dan minim sekat. Muncul faksi “Kubu GP” vs “Kubu Non-GP”.
Apresiasi Merata berdasarkan kinerja harian di kelas. Terpusat pada portofolio di aplikasi/LMS.

3. Komunikasi yang Mengasingkan (Jargon vs. Realita)

Kurikulum Guru Penggerak menggunakan banyak jargon baru yang terkadang menciptakan jarak komunikasi yang lebar di ruang guru.

4. Risiko Keruntuhan Ekosistem Kolaborasi

Soliditas antar guru adalah fondasi utama keberhasilan sebuah sekolah. Jika ruang guru terbelah, maka koordinasi antar-mata pelajaran atau penanganan masalah siswa secara terpadu akan terhambat.

  • Hilangnya Sosok Mentor Alami: Guru senior yang seharusnya menjadi mentor bagi guru muda mungkin menarik diri karena merasa tidak lagi dihargai oleh sistem yang hanya mengagungkan label administratif baru.

  • Fokus pada “Konten”, Bukan “Konteks”: GP yang terlalu fokus mengejar tugas di LMS berisiko kehilangan koneksi emosional dengan rekan sejawat di dunia nyata. Mereka hadir secara fisik, namun pikiran mereka tertuju pada validasi sistem digital.


5. Kesimpulan: Menuju Inklusivitas, Bukan Eksklusivitas

Untuk mencegah rusaknya soliditas, paradigma Guru Penggerak harus digeser dari “menjadi elit” menjadi “menjadi pelayan”.

  • Distribusi Ilmu secara Horizontal: Seorang GP seharusnya menjadi orang yang paling depan membantu kesulitan rekan sejawatnya tanpa harus merasa lebih tinggi secara strata.

  • Apresiasi bagi “Penyokong”: Sekolah dan pemerintah juga harus memberikan apresiasi kepada guru-guru “non-penggerak” yang tetap setia menjaga stabilitas kelas saat rekan mereka sedang fokus mengikuti diklat.

Kehebatan seorang penggerak tidak diukur dari seberapa cepat ia naik jabatan, tetapi dari seberapa banyak rekan sejawat yang merasa terbantu dan terinspirasi oleh kehadirannya di ruang guru.

Menurut Anda, apakah sebaiknya program pengembangan guru dilakukan secara kolektif untuk seluruh guru di satu sekolah (berbasis komunitas sekolah) daripada memilih individu secara acak untuk dijadikan “elit” penggerak?

bento4d

bento4d

bento4d

jacktoto

jacktoto

prediksi togel

TAGS

CATEGORIES

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *