Berikut adalah bedah masalah mengenai fenomena “elit baru” dan dampaknya terhadap soliditas sejawat:
1. Lahirnya Kasta Administratif di Sekolah
Kritik utama terhadap program ini adalah terciptanya privilese yang sangat kontras antara mereka yang berlabel Guru Penggerak (GP) dan yang tidak.
-
Eksklusivitas Pelatihan: GP mendapatkan akses ke materi, fasilitas, dan jaringan yang tidak didapatkan oleh guru lain. Hal ini memicu kecemburuan sosial karena “kue” pengembangan profesi dianggap tidak dibagi secara rata kepada seluruh pendidik.
2. Ketimpangan Beban Kerja vs. Pengakuan
Program ini menuntut dedikasi waktu yang luar biasa, yang sering kali berdampak langsung pada rekan sejawat lainnya di sekolah.
-
Beban “Pemain Pengganti”: Saat seorang guru mengikuti diklat GP selama berbulan-bulan, tugas mengajar atau administrasi mereka sering kali harus diambil alih oleh rekan sejawat. Ironisnya, rekan yang membantu menanggung beban kerja tersebut tidak mendapatkan pengakuan atau gelar apa pun, sementara sang GP mendapatkan panggung.
Perbandingan: Dinamika Ruang Guru Pasca-Program Guru Penggerak
3. Komunikasi yang Mengasingkan (Jargon vs. Realita)
Kurikulum Guru Penggerak menggunakan banyak jargon baru yang terkadang menciptakan jarak komunikasi yang lebar di ruang guru.
-
Resistensi Pasif: Perubahan yang dipaksakan secara top-down melalui sosok individu sering dihadapi dengan resistensi pasif. Rekan sejawat cenderung mengabaikan inovasi jika dirasa inovasi tersebut hanya untuk memenuhi target portofolio pribadi sang GP di aplikasi, bukan untuk kemajuan kolektif sekolah.
4. Risiko Keruntuhan Ekosistem Kolaborasi
Soliditas antar guru adalah fondasi utama keberhasilan sebuah sekolah. Jika ruang guru terbelah, maka koordinasi antar-mata pelajaran atau penanganan masalah siswa secara terpadu akan terhambat.
-
Hilangnya Sosok Mentor Alami: Guru senior yang seharusnya menjadi mentor bagi guru muda mungkin menarik diri karena merasa tidak lagi dihargai oleh sistem yang hanya mengagungkan label administratif baru.
-
Fokus pada “Konten”, Bukan “Konteks”: GP yang terlalu fokus mengejar tugas di LMS berisiko kehilangan koneksi emosional dengan rekan sejawat di dunia nyata. Mereka hadir secara fisik, namun pikiran mereka tertuju pada validasi sistem digital.
5. Kesimpulan: Menuju Inklusivitas, Bukan Eksklusivitas
Untuk mencegah rusaknya soliditas, paradigma Guru Penggerak harus digeser dari “menjadi elit” menjadi “menjadi pelayan”.
-
Distribusi Ilmu secara Horizontal: Seorang GP seharusnya menjadi orang yang paling depan membantu kesulitan rekan sejawatnya tanpa harus merasa lebih tinggi secara strata.
-
Apresiasi bagi “Penyokong”: Sekolah dan pemerintah juga harus memberikan apresiasi kepada guru-guru “non-penggerak” yang tetap setia menjaga stabilitas kelas saat rekan mereka sedang fokus mengikuti diklat.
Kehebatan seorang penggerak tidak diukur dari seberapa cepat ia naik jabatan, tetapi dari seberapa banyak rekan sejawat yang merasa terbantu dan terinspirasi oleh kehadirannya di ruang guru.
Menurut Anda, apakah sebaiknya program pengembangan guru dilakukan secara kolektif untuk seluruh guru di satu sekolah (berbasis komunitas sekolah) daripada memilih individu secara acak untuk dijadikan “elit” penggerak?
No Responses