Guru vs Teknologi: Akankah AI Menggantikan Peran Guru di Masa Depan?

Perkembangan AI seperti ChatGPT, Photomath, dan Khanmigo memungkinkan siswa mendapatkan jawaban instan—lengkap dengan langkah pengerjaannya. Dalam konteks ini, muncul kekhawatiran: apa lagi yang tersisa dari peran guru?

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti memberikan jawaban tegas. Kehadiran AI tidak akan menggantikan peran guru dalam proses pendidikan.

“AI itu tetap menjadi teknologi yang tidak bisa menyelesaikan dan menggantikan semuanya. AI bisa memberikan advice (nasihat), bisa menjelaskan banyak hal, tetapi dia tidak melakukan dan tidak mengalami.” — Abdul Mu’ti, Mendikdasmen


1. Mengapa AI Tidak Bisa Menggantikan Guru?

a. Guru Punya Dimensi Kemanusiaan yang Tak Dimiliki AI

Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa AI hanya mampu mengolah data dan menyajikan informasi secara cepat, tetapi tidak memiliki dimensi pengalaman, tanggung jawab moral, dan kemanusiaan yang melekat pada peran guru. Kendali atas pemanfaatan AI tetap berada di tangan manusia.

Guru SMAN 9 Malang, Panjilmo Putro, menambahkan bahwa keteladanan guru adalah hal yang tidak mungkin digantikan AI. Cara guru bersikap, berbicara, menghargai waktu, hingga memberikan hukuman edukatif merupakan pendidikan karakter yang tidak bisa dilakukan mesin.

“Pengetahuan bisa dibantu AI. Tetapi pendidikan karakter tidak akan pernah bisa digantikan karena AI tidak bisa menjadi teladan.” — Panjilmo Putro, Guru SMAN 9 Malang

b. Guru Memiliki Empat Kompetensi yang Komprehensif

Kompetensi Peran Guru vs AI
Pedagogis Guru membaca proses belajar, memahami kesulitan siswa, dan menyesuaikan strategi mengajar. AI tidak bisa menangkap kegelisahan siswa dari raut wajah.
Profesional Guru menguasai materi dan perkembangan keilmuan, serta mampu menggunakan AI sebagai alat bantu, bukan ancaman.
Sosial Guru membangun kedekatan, menjalin kepercayaan, dan menjadi teladan dalam interaksi. AI tidak bisa membentuk komunitas belajar.
Kepribadian Guru menunjukkan nilai-nilai hidup: ketekunan, kejujuran, tanggung jawab. Di era AI, nilai integritas menjadi semakin krusial.

c. Pendidikan Karakter Hanya Bisa Dibentuk Manusia

Mendikdasmen menekankan bahwa pendidikan bukan hanya soal menyampaikan pengetahuan, tetapi juga membentuk nilai, sikap, dan karakter peserta didik.

Peneliti BRIN, Anggi Afriansyah, dalam opini di Media Indonesia juga menegaskan: “Pendidikan yang memanusiakan dan mengedepankan dialog hanya bisa dilakukan manusia, bukan mesin.”


2. Transformasi Peran Guru di Era AI

AI memang tidak menggantikan guru, tetapi mengubah peran guru secara fundamental.

a. Dari Sumber Informasi Menjadi Kurator Pengetahuan

Di era akses informasi yang melimpah, guru tidak lagi menjadi sumber informasi utama bagi siswa. Peran guru bergeser menjadi kurator—memilah, memverifikasi, dan memastikan sumber informasi yang digunakan siswa benar-benar valid dan relevan.

b. Fasilitator Berpikir Kritis

Guru bertugas mendorong siswa untuk berpikir, menganalisis, dan tidak menerima begitu saja jawaban dari AI. Ketua Komisi X DPR Hetifah Sjaifudian menekankan pentingnya siswa melakukan analisis dan interpretasi data secara mandiri, bukan sekadar mengandalkan AI.

c. Desainer Pembelajaran Bermakna

Guru merancang pengalaman belajar yang bermakna dan mendorong kreativitas, bukan hanya efisiensi. Tugas-tugas dirancang sedemikian rupa sehingga tidak bisa diselesaikan hanya dengan menyalin output AI.

d. Filter dan Pembimbing Etika Digital

Mendikdasmen mengingatkan bahwa penggunaan AI pada siswa harus dengan panduan guru, karena AI memiliki kelemahan: bisa diakses dengan mudah dan cepat, namun informasi yang diperoleh belum tentu benar.


3. Tantangan di Indonesia: Kesenjangan dan Infrastruktur

Pembicaraan tentang AI dalam pendidikan sering kali elitis. Ada tiga lapisan guru di Indonesia, menurut Kepala MI AL AMIN, Mahar Alamsyah Santosa:

  1. Guru “Pioneer”: Sudah memakai AI untuk RPP, analisis data. Biasanya di kota besar atau sekolah dengan fasilitas memadai.

  2. Guru “Survivor”: Tahu AI, ingin mencoba, tapi terkendala fasilitas dan pelatihan. Masih berjuang dengan hal dasar seperti proyektor rusak atau kuota terbatas.

  3. Guru “Tertinggal”: Bahkan mungkin belum tahu ChatGPT. Fokus mereka pada bagaimana mengajar dengan buku halaman sobek, atau menghadapi siswa yang masuk tanpa sarapan.

Peneliti BRIN mengingatkan bahwa kehadiran guru di wilayah marginal yang serbaminim akses bukan hanya sebagai pengantar pengetahuan, melainkan juga cahaya penerang bagi anak-anak bangsa.


4. Upaya Pemerintah: Pelatihan dan Kebijakan

Pemerintah menargetkan pelatihan 361.000 guru dalam deep learning, coding, dan kecerdasan buatan pada 2026 untuk mempercepat transformasi digital di sekolah. Pada 2025, pelatihan deep learning telah menjangkau 133.391 guru, sementara pelatihan coding dan AI mencapai 53.000 sekolah.

Mendikdasmen juga menyiapkan peningkatan penguasaan bahasa Inggris bagi para guru untuk menunjang pembelajaran AI dan coding.


Penutup: Guru Tidak Akan Digantikan, Tapi Harus Bertransformasi

Pertanyaan “apakah AI akan menggantikan guru” sebenarnya harus dibalik: “apakah guru siap berkolaborasi dengan AI untuk memperkuat pembelajaran?”

Seperti yang diingatkan Mendikdasmen Abdul Mu’ti:

“Aset human dan sisi kemanusiaan itu tidak boleh dilepaskan dalam konteks AI.”

AI bisa membantu menjelaskan materi, tetapi hanya guru yang bisa menumbuhkan semangat belajar. AI bisa memberikan solusi, tetapi hanya guru yang bisa membangun pemahaman. AI bisa menjawab pertanyaan, tetapi hanya guru yang bisa membentuk karakter.

Pada akhirnya, guru terbaik di era AI bukanlah yang paling jago coding, tapi yang paling paham manusia. Di era AI, guru bukan tergantikan—mereka justru menjadi lebih penting dari sebelumnya.

TAGS

CATEGORIES

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *