PGRI dan Ketertinggalan dalam Revolusi Pendidikan Digital
Ketertinggalan ini bukan hanya soal ketidakmampuan menggunakan gawai, melainkan kegagalan sistemik dalam membangun ekosistem digital yang mampu melindungi dan memberdayakan guru di era automasi.
Akar Masalah: Mengapa PGRI Terasa “Analog” di Era Digital?
Ada beberapa faktor yang menyebabkan gerak PGRI tidak selincah perkembangan teknologi:
1. Struktur Organisasi yang “Heavy-Top”
2. Kurikulum Pelatihan yang Usang
3. Absennya Inovasi Platform Mandiri
Dampak Nyata bagi Guru di Lapangan
Ketertinggalan organisasi dalam revolusi digital berdampak langsung pada kondisi mental dan profesional guru:
-
Digital Burnout: Guru merasa sendirian menghadapi tuntutan aplikasi pemerintah (seperti PMM atau e-Kinerja) tanpa adanya bimbingan strategis atau advokasi dari organisasi untuk menyederhanakan beban tersebut.
-
Kesenjangan Literasi: Terjadi jurang yang semakin lebar antara guru di kota besar dengan guru di daerah terpencil. PGRI gagal menjadi jembatan yang meratakan akses pengetahuan teknologi secara inklusif.
-
Kehilangan Relevansi: Guru muda yang mahir digital mulai merasa bahwa PGRI bukanlah tempat yang tepat untuk mengembangkan karier profesional mereka, sehingga mereka lebih memilih bergabung dengan komunitas edutech global.
No Responses