Berikut adalah analisis kritis mengenai dampak digitalisasi terhadap beban mental dan mutu pendidikan:
1. Pergeseran Fokus: Dari Pedagogi ke Administrasi Digital
Tujuan awal digitalisasi adalah memangkas birokrasi, namun realitanya sering kali menciptakan birokrasi baru yang lebih menyita waktu.
-
Dokumentasi yang Berlebihan: Untuk membuktikan sebuah kegiatan telah dilakukan, guru harus mengunggah foto, video, dan narasi ke aplikasi. Proses dokumentasi ini sering kali memakan waktu lebih lama daripada kegiatan intinya itu sendiri.
2. Matinya Batas Waktu: Kerja 24 Jam Non-Stop
Aplikasi kinerja di ponsel pintar membawa beban pekerjaan masuk ke ruang privasi dan waktu istirahat guru.
Perbandingan: Dampak Digitalisasi pada Mutu vs. Beban Mental
3. Standarisasi yang Menghilangkan Keunikan Guru
Algoritma aplikasi cenderung menyamaratakan semua guru dalam satu standar kaku.
-
Guru sebagai “Input Data”: Keahlian guru dalam menyentuh hati siswa, memotivasi anak yang putus asa, atau kearifan lokal yang mereka ajarkan tidak memiliki kolom di aplikasi kinerja. Hal-hal substantif ini tidak bisa dikuantifikasi, sehingga sering kali dianggap “tidak berkinerja” oleh sistem.
-
Diskriminasi Infrastruktur: Bagi guru di daerah dengan sinyal buruk, aplikasi kinerja adalah mimpi buruk. Mereka harus mencari sinyal ke bukit atau balai desa hanya untuk menggugurkan kewajiban administratif, yang tentu saja tidak ada hubungannya dengan mutu pembelajaran di kelas mereka.
4. Manipulasi Formalitas demi Validasi
Ketika sistem hanya menghargai apa yang terlihat di aplikasi, muncul budaya “Formalisme Digital”.
-
Laporan Fiktif: Demi mendapatkan nilai baik, ada kecenderungan guru membuat laporan yang terlihat sempurna namun tidak mencerminkan kondisi kelas yang sebenarnya.
-
Hilangnya Kejujuran Akademik: Digitalisasi yang terlalu menekan hasil akhir administratif berisiko merusak integritas profesi. Guru yang jujur namun gagap teknologi bisa kalah “kinerjanya” dibanding guru yang mahir menggunakan aplikasi namun jarang masuk kelas.
5. Kesimpulan: Teknologi Harus Menjadi Pelayan, Bukan Majikan
Digitalisasi adalah alat, bukan tujuan. Jika teknologi justru menjauhkan guru dari siswanya, maka ada yang salah dengan sistem tersebut.
-
Sederhanakan Antarmuka: Aplikasi seharusnya dirancang untuk memudahkan, bukan untuk menguji kesabaran guru. Integrasi antar-aplikasi harus dilakukan agar guru tidak perlu mengisi data yang sama berulang kali di platform yang berbeda.
-
Hargai Proses, Bukan Hanya Bukti Fisik: Penilaian kinerja harus kembali pada dampaknya terhadap siswa di kelas, bukan sekadar kelengkapan unggahan PDF atau foto kegiatan.
Digitalisasi harusnya memerdekakan guru untuk lebih banyak berinovasi, bukan justru memperbudak mereka dengan tumpukan tugas digital yang hampa makna.
Menurut Anda, apakah sebaiknya ada kebijakan “hak untuk mematikan notifikasi” kerja bagi guru setelah jam sekolah berakhir guna menjaga kesehatan mental mereka?
No Responses